PANDANGAN ISLAM TENTANG KEDUDUKAN MANUSIA
Sebagai pemanfaat dan penjaga kelestarian alam
Tuhan telah melengkapi manusia dengan potensi-potensi
rohaniah yang lebih dari makhluk-makhluk hidup yang lain, terutama potensi akal
maka pada manusia juga dibebani tugas, disamping tugas untuk memanfaatkan alam
ini dengan sebaik-baiknya, juga tugas untuk memelihara dan melestarikan alam
ini dan dilarang untuk merusaknya.
“maka apabila telah selesai mengerjakan
sembahyan, hendaklah kamu bertebaran di muka bumi ini dan carilah karunia Allah
dan ingatlah akan Allah sebanyak-banyaknya, mudah-mudahan kamu beroleh
kemenangan” (QS. Al-Jum’ah : 10)
“makanlah kamu dan minumlah kami dari rizki
yang telah diberikan Allah kepadamu. Dan janganlah kamu berbuat bencana diatas
bumi” (QS. Al-Baqarah : 60)
Sebagai peneliti alam dan dirinya untuk
mencari Tuhan
Allah memerintahkan pada manusia agar menggunakan
akalnya, untuk mempelajari alam semesta dan dirinya sendiri, kecuali untuk
kemanfaatan hidupnya, juga untuk dapat menggunakan nama Tuhannya yang telah
menciptakan dirinya (beriman kepada Allah). Allah berfirman :
“Sesungguhnya pada penciptaan sekalian langit
dan bumi, dan pergantian malam dan siang, bahtera yang berlayar di lautan
membawa manfaat bagi manusia dan apapun yang diturunkan Allah dari langit dari
pada air, sehingga hiduplah bumi sesudah matinya, dan berkembangbiaklah padanya
dari tiap-tiap yang melata, dan perkisaran angin dan awan yang terkendali
diantara langit dan bumi, semuanya itu adalah tanda-tanda kebesaran Allah bagi
kamu yang berakal (QS. Al-Baqarah : 164)
“Dan
Allah menciptakan kamu dari tanah kemudian dari air mani, kemudian Dia
menjadikan kamu berpasangan (laki-laki dan perempuan). Dan tidak ada seorang
perempuanpun mengandung dan tidak (pula) melahirkan melainkan dengan
sepengetahuan-Nya. Dan sekali-kali tidak dipanjangkan umur seorang yang berumur
panjang dan tidak pula dikurangi umurnya, melainkan (sudah ditetapkan) dalam
Kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu bagi Allah adalah mudah. Dia
memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan
menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang
ditentukan. Yang (berbuat) demikian itulah Allah Tuhanmu, kepunyaan-Nya-lah
kerajaan. Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tiada mempunyai
apa-apa walaupun setipis kulit ari” (QS. Al-Fatir : 11 & 13)
Sebagai khalifah (penguasa) di muka bumi
Manusia diberikan kedudukan oleh Allah sebagai penguasa,
pengatur kehidupan di muka bumi ini. Allah berfirman :
“Dan Dialah yang menjadikan kamu
penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian
(yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya
kepadamu. Sesungguhnya
Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. Al-An’am : 165)
Sebagai makhluk yang paling tinggi dan paling
mulia
Allah telah menegaskan melalui firmannya :
“Sesungguhnya telah kami ciptakan manusia itu
dalam sebaik-baiknya kejadian” (QS. At-Tin : 4 )
“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan
anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka
rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang
sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan” (QS. Al-Isra : 70)
Sebagai hamba Allah
Kedudukan sebagai hamba Allah ini memang menjadi tujuan
Allah menciptakan manusia dan makhluk-makhluk lainnya. Firman Allah :
“Tidaklah aku ciptakan jin dan manusia,
melainkan supaya mereka menyembah Aku” (QS. Adz- Dzariyat : 56)
“Maka apakah mereka mencari agama yang lain
dari agama Allah, padahal kepada-Nya-lah menyerahkan diri segala apa yang di
langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allahlah
mereka dikembalikan” (QS. Ali-Imran : 83)
Sebagai makhluk yang bertanggung jawab
Setelah dengan kemampuan akalnya, manusia meneliti
dunianya dan dirinya sendiri dan kemudian mengerti bahwa hakekat diciptakannya
manusia dan alam semesta ini semata-mata untuk menyembah kepada Allah, maka
sebagai konsekuensi diberikan kedudukan yang istimewa oleh Allah pada manusia
seperti tersebut diatas, maka manusia juga dituntut untuk bertanggung jawab
terhadap apa-apa yang telah dilakukan diatas muka bumi ini, firman Allah :
“Kemudian sesungguhnya kamu akan diperiksa
dihari itu dari segala nikmat yang telah kamu terima” (QS. At-Takatsur : 8)
“Pada
hari (ketika), lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap
apa yang dahulu mereka kerjakan. Di hari itu, Allah akan
memberi mereka balasan yag setimpal menurut semestinya, dan tahulah mereka
bahwa Allah-lah yang Benar, lagi Yang menjelaskan (segala sesutatu menurut
hakikat yang sebenarnya)” (QS. An-Nur : 24 – 25)
Sebagai makhluk yang
dapat dididik dan mendidik
Manusia sebagai makhluk
yang dapat dididik dapat dipahami dari firman Allah sebagai berikut :
“Dan Allah
mengajarkan kepada Adam nama-nama segalanya” (QS. Al-Baqarah :
31)
“Bacalah dengan
(menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari
segumpal darah, Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar
(manusia) dengan perantaran kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak
diketahuinya” (QS. Al-Alaq : 1-5)
Sedangkan manusia sebagai
makhluk mendidik dapat dipahami dari firman Allah yang mengisahkan bagaimana
Luqman mengajar anaknya sebagai berikut :
“Dan (ingatlah)
ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya:
"Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya
mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar". Dan Kami
perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya
telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya
dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya
kepada-Kulah kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu
untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang
itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia
dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya
kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.
(Luqman berkata): "Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan)
seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi,
niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha
Halus lagi Maha Mengetahui. Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah
(manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang
mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk
hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). Dan janganlah kamu memalingkan mukamu
dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan
angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi
membanggakan diri. Dan sederhanalah kamu dalam
berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara
keledai. Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk
(kepentingan)mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan
untukmu nikmat-Nya lahir dan batin. Dan di antara manusia ada yang membantah
tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa Kitab
yang memberi penerangan” (QS. Luqman : 13
-20)
Demikian kedudukan manusia
yang dapat dikemukakan dalam uraian ini. Ini adalah baru sebagian kecil saja
yang dapat diungkapkan, namun kami menganggap yang sedikit ini telah dapat
memberi gambaran apa dan bagaimana seharusnya baik untuk diri sendiri,
sesamanya, alamnya dan Tuhannya.