Home

Selasa, 24 Mei 2022

PANDANGAN ISLAM TENTANG KEDUDUKAN MANUSIA (VOL. 1.2)

 

PANDANGAN ISLAM TENTANG KEDUDUKAN MANUSIA



Sebagai pemanfaat dan penjaga kelestarian alam

Tuhan telah melengkapi manusia dengan potensi-potensi rohaniah yang lebih dari makhluk-makhluk hidup yang lain, terutama potensi akal maka pada manusia juga dibebani tugas, disamping tugas untuk memanfaatkan alam ini dengan sebaik-baiknya, juga tugas untuk memelihara dan melestarikan alam ini dan dilarang untuk merusaknya.

“maka apabila telah selesai mengerjakan sembahyan, hendaklah kamu bertebaran di muka bumi ini dan carilah karunia Allah dan ingatlah akan Allah sebanyak-banyaknya, mudah-mudahan kamu beroleh kemenangan” (QS. Al-Jum’ah : 10)

“makanlah kamu dan minumlah kami dari rizki yang telah diberikan Allah kepadamu. Dan janganlah kamu berbuat bencana diatas bumi” (QS. Al-Baqarah : 60)

Sebagai peneliti alam dan dirinya untuk mencari Tuhan

Allah memerintahkan pada manusia agar menggunakan akalnya, untuk mempelajari alam semesta dan dirinya sendiri, kecuali untuk kemanfaatan hidupnya, juga untuk dapat menggunakan nama Tuhannya yang telah menciptakan dirinya (beriman kepada Allah). Allah berfirman :

“Sesungguhnya pada penciptaan sekalian langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang, bahtera yang berlayar di lautan membawa manfaat bagi manusia dan apapun yang diturunkan Allah dari langit dari pada air, sehingga hiduplah bumi sesudah matinya, dan berkembangbiaklah padanya dari tiap-tiap yang melata, dan perkisaran angin dan awan yang terkendali diantara langit dan bumi, semuanya itu adalah tanda-tanda kebesaran Allah bagi kamu yang berakal (QS. Al-Baqarah : 164)

Dan Allah menciptakan kamu dari tanah kemudian dari air mani, kemudian Dia menjadikan kamu berpasangan (laki-laki dan perempuan). Dan tidak ada seorang perempuanpun mengandung dan tidak (pula) melahirkan melainkan dengan sepengetahuan-Nya. Dan sekali-kali tidak dipanjangkan umur seorang yang berumur panjang dan tidak pula dikurangi umurnya, melainkan (sudah ditetapkan) dalam Kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu bagi Allah adalah mudah. Dia memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Yang (berbuat) demikian itulah Allah Tuhanmu, kepunyaan-Nya-lah kerajaan. Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari (QS. Al-Fatir : 11 & 13)

Sebagai khalifah (penguasa) di muka bumi

Manusia diberikan kedudukan oleh Allah sebagai penguasa, pengatur kehidupan di muka bumi ini. Allah berfirman :

“Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS. Al-An’am : 165)

Sebagai makhluk yang paling tinggi dan paling mulia

Allah telah menegaskan melalui firmannya :

“Sesungguhnya telah kami ciptakan manusia itu dalam sebaik-baiknya kejadian” (QS. At-Tin : 4 )

“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan” (QS. Al-Isra : 70)

Sebagai hamba Allah

Kedudukan sebagai hamba Allah ini memang menjadi tujuan Allah menciptakan manusia dan makhluk-makhluk lainnya. Firman Allah :

“Tidaklah aku ciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka menyembah Aku” (QS. Adz- Dzariyat : 56)

“Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nya-lah menyerahkan diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan” (QS. Ali-Imran : 83)

Sebagai makhluk yang bertanggung jawab

Setelah dengan kemampuan akalnya, manusia meneliti dunianya dan dirinya sendiri dan kemudian mengerti bahwa hakekat diciptakannya manusia dan alam semesta ini semata-mata untuk menyembah kepada Allah, maka sebagai konsekuensi diberikan kedudukan yang istimewa oleh Allah pada manusia seperti tersebut diatas, maka manusia juga dituntut untuk bertanggung jawab terhadap apa-apa yang telah dilakukan diatas muka bumi ini, firman Allah :

“Kemudian sesungguhnya kamu akan diperiksa dihari itu dari segala nikmat yang telah kamu terima” (QS. At-Takatsur : 8)

“Pada hari (ketika), lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan. Di hari itu, Allah akan memberi mereka balasan yag setimpal menurut semestinya, dan tahulah mereka bahwa Allah-lah yang Benar, lagi Yang menjelaskan (segala sesutatu menurut hakikat yang sebenarnya)” (QS. An-Nur : 24 – 25)

Sebagai makhluk yang dapat dididik dan mendidik

Manusia sebagai makhluk yang dapat dididik dapat dipahami dari firman Allah sebagai berikut :

“Dan Allah mengajarkan kepada Adam nama-nama segalanya” (QS. Al-Baqarah : 31)

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah, Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya” (QS. Al-Alaq : 1-5)

Sedangkan manusia sebagai makhluk mendidik dapat dipahami dari firman Allah yang mengisahkan bagaimana Luqman mengajar anaknya sebagai berikut :

“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar". Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (Luqman berkata): "Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui. Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai. Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin. Dan di antara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa Kitab yang memberi penerangan (QS. Luqman : 13 -20)

Demikian kedudukan manusia yang dapat dikemukakan dalam uraian ini. Ini adalah baru sebagian kecil saja yang dapat diungkapkan, namun kami menganggap yang sedikit ini telah dapat memberi gambaran apa dan bagaimana seharusnya baik untuk diri sendiri, sesamanya, alamnya dan Tuhannya.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Unggul O2SN 2024 : MTsN 1 Kota Melaju Ke Provinsi

  Peserta didik MTsN 1 Kota Bima, Ahmad Hisyam (VII MT) dan  M. Aiman Yazid (VIII Robotik)  berhasil meraih juara 1 dan 3 pada Pertandingan ...